INSAN YANG CERDAS, KOMPREHENSIF, DAN KOMPERATIF
Interaksi pendidik (guru) dan peserta didik (murid) yang dapat menunjang pelaksanaan misi pendidikan adalah dengan model kemitraan. Pendidik dan peserta didik merupakan mitra dalam mewujudkan insan yang cerdas komprehensif dan kompetitif. Sebagai mitra, pendidik dan peserta didik perlu menjalin komunikasi sosial yang akrab, kerja sama positif , kreatif, produktif, dan inovatif, serta sikap evaluatif timbal balik.
Pada umumnya kendala utama dalam kemitraan pendidik dan peserta didik adalah faktor psikologis. Ekses budaya kolonialisme dan paternalisme yang telah berurat berakar di Indonesia menempatkan interaksi pendidik dan peserta didik pada kesenjangan posisi sosial. Pendidik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok yang “berkuasa” atas peserta didiknya serta “serba benar” dan “serba pintar” di mata peserta didiknya. Sebaliknya peserta didik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok “penurut” kepada pendidiknya serta “serba kurang” dan “serba perlu dituntun terus-menerus” oleh pendidiknya. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan komunikasi sosial kedua pihak kaku. Akibatnya pula, kegiatan belajar-mengajar mengkondisikan pendidik lebih aktif daripada peserta didik, bahkan sebagian besar peserta didik pasif. Kepasifan itu akan menghambat upaya kerja sama positif, kreatif, produktif, dan inovatif. Kegiatan saling mengevaluasi pun tidak akan terlaksana dengan baik.